Home » » PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) DAN PEMBELAJARAN PAKEM

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) DAN PEMBELAJARAN PAKEM

Written By Wahyu Hilmi on Minggu, 01 November 2015 | 08.48

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) DAN PEMBELAJARAN PAKEM

Makalah ini diajukan untuk memenuhi sebagai salah satu mata kuliah Perencanan Pembelajaran.
Dosen; Dr. Naf’an Torihoran




DisusunOleh:
Wahyu Hilmi               (142301764)
TBI 3C






FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN
2015/2016


PENDAHULUAN

Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berfikir, bersikap,  dan berbuat.
Pembelajaran merupakan proses transfer ilmu yang melibatkan sistem dalam dunia pendidikan yaitu; guru, peserta didik, materi, tujuan dan alat. Dalam  pembelajaran yang didesain atau direncanakan haruslah efektif dan efisien sehingga tujuan pembelajaran tercapai dan  diterima dengan baik oleh peserta didik sehingga tujuan nasional pendidik mampu dicapai dengan baik.
Dalam pembelajaran dan pendidikan seirung dengan berkembangnya pendidikan dan sistem pendidikan di Indonesia, seluruh elemen masyarakat, utamanya yang terkait langsung dengan pendidikan dituntut untuk lebih kreatif dan profesional untuk mengembangkan pendidikan. Selain itu, para pelaku pendidikan juga diharapkan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan bersama dengan kebutuhan dan tantangan pendidikan.
Untuk itulah perlu adanya cara atau metode untuk menjawab tantangan-tantangan yang muncul seiring dengan berkembangnya zaman, maka muncullah cara atau metode yang disebut dengan Pembelajara kontekstual atau disebut CTL dan pembelajaran PAKEM.
Maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai Pendidikan Kontekstual (CTL) dan Pembelajaran PAKEM serta penerapan contohnya.





ISI

1.     PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

1.1.SEJARAH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran Berbasis Kontekstual atau disebut Contextual teaching and Learning (CTL) dalam Bahasa Inggris, telah lama sekali diusung oleh John Dewey pada tahun 1916 yang menyarankan agar kurikulum dan metodologi pembelajaran dikaitkan langsung dengan minat dan pengalaman siswa. Jhon Dewey tidak menyetujui konsentrasi pembelajaran pada pengembangan intelektual terpisah dari pengembangan aspek kepribadian. Jhon Dewey juga tidak menyetujui dijauhkannya kegiatan pembelajaran di sekolah dengan kegiatan di dunia kerja dan di dunia nyata sehari-hari.

Pembelajaran kontekstual atau CTL telah jauh dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan dan bukan barang baru, salah satunya adalah John Dewey, seperti dikatakan Jhon Dewey bahwa model pembelajaran ini dikembangkannya pada tahun 1916, yang ia sebut dengan Learning by doing ini tahun pada 1916, dan kemudian tahun 1970-an konsep model pembelajaran kontekstual ini lebih dikenal dengan experiential learning, kemudian pada era tahun 1970 sampai 1980 lebih dikenal dengan applied learning, pada tahun 1990-an model kontekstual ini dikenal dengan school to work. Kemudian pada era tahun 2000-an, model kontekstual ini lebih efektif digunakan.

Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok. Dengan demikian, guru dituntut untuk menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dan memberikan kegiatan yang bervariasi, sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa, mengaktifkan siswa dan guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, responsif, serta rumah dan lingkungan masyara-kat. Pada akhirnya siswa memiliki motivasi tinggi untuk belajar.”
Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Sehingga sering mengabaikan pengetahuan awal siswa. Untuk itu diperlukan suatau pen-dekatan belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu pendekatan yang memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (CTL).

1.2. PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL)

Model Pembelajaran Kontekstual (CTL) dikembangkan oleh The Washington State Concortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam dunai pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat, melalui Direktorat SLTP Depdiknas.
Pendekatan model Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).
Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menhadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk meggapinya.

Oleh sebab itulah kalau kita fahami filosofis model pembelajaran kontekstual ini, ada dua yang disebut : Pertama, Filosofi pendidikan: berasumsi bahwa pendidik mempunyai peranan penting me-mbantu siswa menemukan makna di dalam pendidikannya dengan mengaitkan apa yang mereka pelajari di kelas dengan bagaimana penerapan pengetahuan itu dunia nyata. Kedua, Strategi pedagogik, ctl berisi teknik-teknik yang dapat membantu siswa menjadi lebih aktif dan reflektif terhadap pengalaman-pengalamannya



1.3. PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic). Adapaun penjelasannya sebagai  berikut:

1.      Konstruktivisme (constructivism). Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya
2.      Menemukan (Inquiry). Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran  berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan  bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation),  bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering),  penyimpulan (conclusion).
3.      Bertanya(Questioning). Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari  bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan  bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
4.       Masyarakat Belajar (Learning Community). Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari “sharing‟ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat  belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.

5.      Pemodelan (Modeling). Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.
6.      Refleksi (Reflection). Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
7.      Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assessment). Penialaian adalah proses  pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil

1.4. KELEBIHAN & KEKURANGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
a.       Kelebihan
1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.

b.      Kelemahan
1.      Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi  berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa
a.       kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide - ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi - strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan  perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.



2.     PEMBELAJARAN PAKEM

2.1.SEJARAH PEMBELAJARAN PAKEM
Sejarah Pembelajaran ini pertamakali munculnya dikenal dengan istilah Pakem, semula dikembangkan dari AJEL (Active Joyful and Effective Learning). Untuk pertama kali di Indonesia yaitu pada tahun 1999 yang dikenal dengan istilah PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif dan Menyenangkan), kemudian berkembang penamaannya menjadi PAIKEM penambahan kata Inovatif, kemudian kita juga mengenal PAIKEM Gembrot (gembira dan berbobot) dan sekarang juga dikenal dengan PAILKEM dengan penambahan kata Lingkungan. Pada dasarnya landasan teori yang digunakan adalah mengambil teori-teori tentang active learning atau pembelajaran aktif.

Istilah PAIKEM sesungguhnya dapat diketahui melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Turunan dari UU Guru dan Dosen tersebut adalah Permendiknas  Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Dalam permendiknas tersebut telah diatur pelaksanaan sertifikasi guru melalui penilaian portofolio dengan sepuluh komponen yang bertujuan untuk mengukur empat kompetensi pendidik, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.
 Sementara, bagi para guru yang belum lulus diwajibkan mengikuti program kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru atau dikenal dengan singkatan PLPG. Dalam buku rambu-rambu penyelenggaraan PLPG yang dirterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tahun 2007 dijelaskan bahwa salah satu materi pokok yang harus diberikan dalam PLPG adalah materi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Oleh karenannya, sejak akhir tahun 2007 istilah PAIKEM mulai dikenal luas di Indonesia, dan menjadi rujukan utama dalam pelaksanaan pembelajaran.

Sejak beberapa tahun, beberapa proyek USAID (United States Agency for International Development) telah berlangsung di Indonesia, terutama di bidang pemerintahan daerah seperti: PERFORM, BIGG, dan CLEAN. Kerjasama selanjutnya di bidang pendidikan yang berada di bawah naungan MBE (Managing Basic Education) pada pelaksanaan MBS (Manejemen Berbasis Sekolah) dan PSM (Peran Serta Masyarakat). Pendidikan Dasar menjadi fokus utama program ini, karena merupakan sektor paling besar yang harus dikelola oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Salah satu contoh, masyarakat sekitar SDIT Al-Izzah menanam beberapa pohon dihalaman sekolah untuk membantu sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Lima daerah MBE telah membuat nota kesepakatan (MOU) dengan RTI/USAID mengenai pelaksanaan program MBE. Lokakarya manajemen pendidikan telah diadakan pada tanggal 1 s/d 4 September 2003 di Yogyakarta. Survei manajemen pendidikan meliputi beberapa hal, antara lain: pendanaan, perencanaan, pengelolaan guru dan fasilitas. Lebih kurang 90% alokasi dana pendidikan digunakan untuk membayar gaji pegawai, terutama gaji guru.
Kepala sekolah, komite sekolah dan guru baru dilatih dalam penerapan MBS dan PAKEM. Yang menjadi kendala dalam pelaksanaan PAKEM adalah kurangnya tenaga pengajar. Efektifitas kelas maksimal 20 siswa, sedangkan dalam realitanya kelas berisi + 30-35 siswa, untuk melaksanakan program PAKEM perlu diadakan kelas paralel. Lokakarya selalu terus diadakan, selain itu pihak-pihak sekolah yang melaksanakan program ini diusahakan dapat mengunjungi sekolah-sekolah yang sudah melaksanakan MBS, PSM, dan PAKEM dengan baik.
Program lain dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah meningkatkan kesehatan anak, sehingga program SHIP (School Health Improvement Program) atau UKS terus digalakkan hingga saat ini. Kemudian MBE menyebar lagi di lima daerah baru, yaitu: Kota Batu dan Kota Madiun di Jawa Timur, serta Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kebumen di Jawa Tengah. PAKEM selain diterapkan pada pembelajaran juga diterapkan kepada guru, yaitu mengelolah dana secara PAKEM pula. MBE sudah mulai menyebar lebih dari 900 sekolah di luar sekolah binaan, di sisi lain pondok pesantren sudah ada yang menerapkan MBS dan PAKEM.

Rapat review dan perencanaan diadakan pada tgl. 4 s/d 7 Januari 2004 di Batu untuk ke 9 daerah MBE. Dan pada tanggal 6 s/d 8 Desember 2004 dilaksanakan di Hotel Sanur Paradise, Bali. Pada rapat tersebut MBE Project mengikuti Konferensi Nasional PDPP-PERFORM dan akan melaksanakan workshop analisis pemetaan sekolah di lima daerah baru (Banyumas, Kebumen, Kota Madin, Blitar dan Kota Batu) pada awal 2005. Salah satu tujuan dari MBE adalah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan.

Dan dimulai bulan April 2005 MBE akan masuk ke 5 daerah baru di Jawa Tengah dan 6 daerah di Jawa Timur. Jawa Tengah: Kabupaten Purbalingga, Purworejo, Semarang, Sukoharjo dan Kota Magelang. Jawa Timur: Kabupaten Magetan, Malang, Nganjuk, Situbondo, Trenggalek, dan Kota Pasuruan. Di setiap daerah MBE telah dilatih tim 12 orang fasilitator. Mereka dipilih dari guru, kepala sekolah, pengawas dan pegawai pemerintah daerah. Dan kegiatan di 11 daerah MBE tahap ke 3 telah dimulai dengan diadakannya lokakarya orientasi. Satu prioritas USAID Indonesia adalah pengembangan Pendidikan Dasar. USAID telah mengalokasikan lebih dari $ 100 juta untuk menunjang program baru yang namanya ‘Developing Basic Education’. Tahap ke 3 ini adalah terkait lokarkarya pendanaan pendidikan. Hingga saat ini lokakarya dan pemantauan pelaksanaan MBS, PAKEM terus dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu contoh, Condoleezza Rice Menteri Luar Negeri Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia pada tanggal 14 Maret 2006 untuk melihat salah satu sekolah binaan MBE di Jakarta yaitu MI Al-Ma'muriyah di daerah Cikini. Pelatihan MBS dan PSM juga masih berlangsung pada tanggal 7 Maret 2006 di Kecamatan Magetan tepatnya di Aula Cabang Dinas Pendidikan dan 8 Maret 2006 di Kecamatan Maospati di gedung KKG (USAID).


2.2. PENERAPAN PEMBELAJARAN PAKEM

Untuk saat ini di dalam kegiatan belajar mengajar memang diperlukan adanya strategi yang tepat dan sesuai untuk diterapkan. Adapun strategi yang cocok diterapkan dalam pembelajaran yaitu dikenal dengan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan atau disingkat PAKEM. Jadi model pembelajaran PAKEM ini memungkinkan para siswa untuk mengerjakan beragam kegiatan untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan dengan penekanan belajar sambil bekerja. Sedangkan para pengajar dapat menggunakan berbagai sumber ataupun alat bantu lain termasuk memanfaatkan lingkungan agar proses pembelajaran bisa lebih menaik dan menyenangkan.

Dalam proses kegiatan belajar mengajar, model pakem ini bisa membuat siswa belajar dengan lebih menyenangkan. Adapun model pembelajaran pakem ini memiliki empat unsur di dalamnya seperti :
• Aktif. Belajar di sini adalah salah satu proses aktif untuk membangun makna atau pemahaman atas pengalaman dan informasi yang di dapat oleh peserta didik.
• Kreatif. Adapun proses dari pembelajaran juga harus bisa menumbuhkan kreativitas siswa, karena seorang anak memang dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
• Efektif. Sebuah pembelajaran dilakukan mempunyai tujuan yang harus bisa tercapai. Namun untuk bisa mencapai tujuan tersebut maka ada beberapa faktor penentu yang salah satunya yaitu model pembelajaran yang diterapkan.

Selain itu pembelajaran yang efektif apabila dilaksanakan bisa semakin menunjang keberhasilan pembelajaran selanjutnya.
• Menyenangkan. Kondisi yang menyenangkan ketika proses pembelajaran berlangsung bisa memotivasi para siswa untuk bisa fokus memperhatikan pembelajaran sehingga bisa meningkatkan pencapaian dari tujuan pembelajaran itu sendiri.

Sementara itu kegiatan belajar mengajar yang menggunakan pembelajaran pakem ini bisa dilihat dari 2 sisi. Berikut ini dari sisi guru dan siswa dalam proses pembelajaran :
• Aktif. Jadi untuk guru harus berperan aktif dalam memantau kegiatan belajar peserta didik, memberikan umpan balik, maupun mempertanyakan pertanyaan yang menyenangkan. Sementara untuk siswa haruslah rajin bertanya, berani menyampaikan gagasan maupun menanyakan gagasan orang lain.
• Kreatif. Di sini seorang guru haruslah lebih kreatif dalam arti mampu mengembangkan berbagai kegiatan yang ada serta bisa membuat alat bantu belajar sehingga proses belajar lebih berkesan. Sedangkan untuk siswa juga harus kreatif, misalnya saja seperti membuat sesuatu ataupun mengarang.
• Efektif. Agar pembelajaran bisa efektif maka guru harus bisa mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri, sementara siswa harus menguasai keterampilan yang diperlukan.
• Menyenangkan. Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, cara mengajar guru sebaiknya tidak membuat siswa menjadi takut. Sedangkan siswanya juga harus mengondisikan bahwa mereka berada dalam situasi pembelajaran yang menyenangkan.

2.3. PENERAPAN PEMBELAJARAN PAKEM
PAKEM diterapkan dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran model konvensional dinilai menjemukan, kurang menarik bagi para peserta didik sehingga berakibat kurang optimalnya penguasaan materi bagi peserta didik. Sedangkan PAKEM memungkinkan peserta didik mengejakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil bekerja, sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.
Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa pembelajaran model PAKEM diterapkan di Indonesia, yakni:

1.         PAKEM lebih memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. Selama ini kita mengenal pembelajaran model konvensional yang dinilai hanya guru yang aktif (monologis), sementara peserta didiknya pasif, sehingga pembelajarannya dinilai menjemukan, kurang menarik, dan tidak menyenangkan.
2.         PAKEM lebih memungkinkan, baik peserta didik maupun guru sama-sama kreatif. Guru berupaya kreatif, mencoba berbagai cara melibatkan semua peserta didiknya dalam pembelajaran. Sementara peserta didik juga dituntut kreatif pula dalam berinteraksi dengan sesama teman, guru, maupun bahan ajar dengan segala alat bantunya sehingga pada akhirnya hasil pembelajaran dapat meningkat.

Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama pembelajaran. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut tabel beberapa contoh kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru.

Kemampuan Guru
Pembelajaran
Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam.
Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misal:Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiriGambarStudi kasusNara sumberLingkungan
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan.
Siswa:Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancaraMengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri Menarik kesimpulan Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan.
Melalui:DiskusiLebih banyak pertanyaan terbuka Hasil karya yang merupakan pemikiran anak sendiri
Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa.
Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut.Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan
Guru mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa sehari-hari.
Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari
Menilai pembelajaran dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.
Guru memantau kerja siswa, Guru memberikan umpan balik


2.4. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMBELAJARAN PAKEM
a.       Kelebihan PAKEM
1.      PAKEM merupakan pembelajaran yang mengembangkan kecakapan hidup
2.      Dalam pakem siswa belajar bekerja sama
3.      PAKEM mendorong siswa menghasilkan karya kreatif
4.      PAKEM mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses
5.      PAKEM menghargai potensi semua siswa
6.      Program untuk meningkatkat pakem disekolah harus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya
7.      Peserta didk akan lebih termotovasi untuk belajar karena adanya variasi dalam proses pembelajaran
8.      Peserta didik dapat lebih mengembangkan dirinya
9.      Peserta didik tidak jenuh dengan pembelajarn di kelas
10.  Peserta didik dapat memecahkan permasalahan dengan memanfaatkan lingkungan sekitarnya
11.  Mental dan fisik peserta didik akan terasah secara optimal

b.  Kekurangan PAKEM
1. Perbedaan individual siswa belum diperhatikan termasuk laki-laki / perempuan, pintar/kurang pintar,social,ekonomi tinggi/rendah
2. Pembelajaran belum membelajarkan kecakapan hidup
3. Pengelompokan siswa masih dari segi pengaturan tempat duduk,kegiatan yang dilakukan siswa sering kali belum mencerminkan belajar kooperatif yang benar
4. Guru belum memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran pakem yang baik
5. Pajangan sering menampilkan hasil kerja siswa yang cenderung seragam
6. Pembelajaran masih sering berupa pengisian lembar kerja siswa (LKS) yang sebagian besar pertanyaanya bersifat tertutup
7. Guru harus meyiapkan pembelajaran yang lebih dari sekedar ceramah, maka dibutuhkan alat dan bahan yang lebih pula untuk melaksanakan pembelajaran tersebut
8. Guru harus bisa mengcover semua kebutuhan siswa baik dari segi mental maupun fisik
9. Sarana dan prasarana harus memadai, sehingga sekolah-sekolah yang berada di daerah sulit untuk mengembangkan PAKEM









KESIMPULAN

Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi nyata sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan peserta didik di lapangan. Ada beberapa perbedaan antara strategi pembelajaran CTL dan konvensional yang membuktikan bahwa CTL lebih efektif dan mampu menjadi alternatif pilihan strategi pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah. Diperlukan pola dan langkah pembelajaran CTL di kelas agar strategi CTL dapat diterapkan secara efektif dan sesuai materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkanadalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi.
Pembelajaran pakem merupakan sebuah model pembelajaran  kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya, yaitu : proses interaksi, proses komunikasi, proses refleksi, dan proses eksplorasi.








DAFTAR PUSTAKA

https://fersyhana.wordpress.com/2011/12/21/metode-pembelajaran-dan-model-pembelajaran-kontekstual-dan-coopetative-learning-beserta-aplikasinya-dalam-pembelajaran-sejarah/
http://www.wahyukeoz.blogspot.com/pembelajaran-kontekstual-dan-pembelajaran-PAKEM.html



Share this article :

1 komentar:

  1. SAYA SEKELUARGA INGIN MENGUCAPKAN BANYAK TERIMAH KASIH KEPADA AKI NAWE BERKAT BANTUANYA SEMUA HUTANG HUTANG SAYA SUDAH PADA LUNAS SEMUA BAHKAN SEKARAN SAYA SUDAH BISA BUKA TOKO SENDIRI,ITU SEMUA ATAS BANTUAN AKI YG TELAH MEMBERIKAN ANKA JITUNYA KEPADA SAYA DAN ALHAMDULILLAH ITU BENER2 TERBUKTI TEMBUS..BAGI ANDA YG INGIN SEPERTI SAYA DAN YANG SANGAT MEMERLUKAN ANGKA RITUAL 2D 3D 4D YANG DIJAMIN 100% TEMBUS SILAHKAN HUBUNGI AKI NAWE DI 085-218-379-259 ATAU KLIK SITUS KAMI PESUGIHAN TAMPA TUMBAL NYATA

    BalasHapus

 
Contact : Facebook | Twitter | Wahyukeoz Blog's
Copyright © 2013. Wahyukeoz Blog’s - All Rights Reserved
Template Created by Wahyu Hilmi Published by Wahyu Hilmi
Proudly powered by Blogger